KOMPAS.com — Saat melihat bayi yang baru lahir, khususnya anak pertama, orang pasti akan berkomentar, “Wah, mirip ayahnya, ya!” Jarang ada orang yang langsung mengatakan bahwa si bayi lebih mirip ibunya.

Hal ini ternyata bukan sekadar celetukan kosong untuk menghibur atau memuji kemolekan seorang bayi. Pada tahun 1995 pernah dilakukan penelitian, yaitu 122 orang diminta mencocokkan gambar-gambar anak usia 1, 10, dan 20 tahun yang tidak mereka kenal dengan foto-foto ayah dan ibunya. Anggota kelompok ini ternyata mampu mencocokkan setengah dari gambar bayi dengan ayahnya, sedangkan tingkat kecocokan antara anak dan ibunya jauh lebih rendah. Yang paling sulit adalah mencocokkan remaja berusia 20 tahun dengan orangtuanya.

Penulis studi saat itu membeberkan penjelasan evolusioner mengenai penemuannya. Seorang ayah, tak seperti ibu, tak pernah bisa memastikan bahwa bayi yang dilahirkan pasangannya adalah hasil dari benihnya. Jika ia menyadari adanya kemiripan antara dirinya dan sang bayi, lanjut penulis, ia akan tahu bahwa bayi itu anaknya. Ia cenderung akan melindungi dan merawat si bayi.

Studi lain yang dibukukan dengan judul Before the Dawn: Recovering the Lost History of Our Ancestors oleh Nicholas Wade (2006) tampaknya mendukung teori ini. Buku ini sebenarnya memaparkan sejarah leluhur kita, yang jejaknya bisa dilacak dari banyak sumber, termasuk DNA. Di dalamnya disebut pula mengenai reproduksi dan bagaimana hal itu memengaruhi budaya manusia. Dikatakan bahwa karena laki-laki harus bekerja keras untuk membesarkan anaknya, mereka harus mendapat kepastian bahwa bayi itu memang anaknya.

Meskipun tanpa bukti-bukti nyata, buku ini juga mengatakan bahwa bayi cenderung memiliki wajah yang chubby dengan fitur-fitur samar sehingga wajah mereka sebenarnya umum saja. Meskipun wajah bayi itu rata-rata hampir sama, peneliti mendapati bahwa para kakek-nenek dan orang lain cenderung mengatakan wajah si bayi mirip ayahnya. Para ibu cenderung berpendapat bahwa bayi mewarisi wajah ayahnya.

Buku ini menyebutkan pula bahwa penelitian ini tidak menetapkan apakah para wanita dengan sadar yakin wajah si bayi mirip ayahnya atau apakah mereka percaya bahwa anak pasti lebih mirip ayahnya.

Tentu saja bayi juga bisa terlihat mirip ibunya atau bahkan mirip paman-bibi atau kakek-neneknya pada saat yang sama. Dengan kata lain, ada “sumbangan” dari banyak pihak yang membentuk wajah bayi.