Category: Ibu dan Anak


KOMPAS.com – Mengapa ketika hamil, payudara kita membesar? Jawabannya, salah satunya karena payudara mulai memproduksi ASI. ASI, seperti Anda tahu, adalah makanan pertama untuk bayi. Cairan ini kaya kandungan antibodi, dan bisa membantu melindungi dan menguatkan sistem kekebalan bayi.

Banyak perempuan yang belum mengetahui, bahwa keajaiban terhebat dalam hidupnya ini sudah mulai diproduksi begitu ia hamil. Menghasilkan air susu juga menjadi tanda utama bahwa tubuh mulai mempersiapkan diri untuk menjadi ibu.

Setiap trimester dalam kehamilan memiliki kekhususan tersendiri, yang mudah diterjemahkan ke dalam tanda-tanda yang bisa dilihat. Sebagai contoh, pada trimester pertama, Anda akan merasa payudara Anda nyeri. Kemudian, ukurannya akan bertambah. Hal ini terjadi ketika kelenjar-kelenjar di dalamnya dipicu untuk mulai memproduksi ASI. Baca lebih lanjut

Iklan

 

KOMPAS.com Saat melihat bayi yang baru lahir, khususnya anak pertama, orang pasti akan berkomentar, “Wah, mirip ayahnya, ya!” Jarang ada orang yang langsung mengatakan bahwa si bayi lebih mirip ibunya.

Hal ini ternyata bukan sekadar celetukan kosong untuk menghibur atau memuji kemolekan seorang bayi. Pada tahun 1995 pernah dilakukan penelitian, yaitu 122 orang diminta mencocokkan gambar-gambar anak usia 1, 10, dan 20 tahun yang tidak mereka kenal dengan foto-foto ayah dan ibunya. Anggota kelompok ini ternyata mampu mencocokkan setengah dari gambar bayi dengan ayahnya, sedangkan tingkat kecocokan antara anak dan ibunya jauh lebih rendah. Yang paling sulit adalah mencocokkan remaja berusia 20 tahun dengan orangtuanya. Baca lebih lanjut

 

KOMPAS.com – Saat hamil, perempuam cenderung menuntut perhatian lebih. Mengidam acapkali dijadikan alasan agar permintaan dipenuhi. Anda bisa membalik kebiasaan ini. Caranya, berikan perhatian kepada orang lain karena dengan cara ini Anda tengah mengajarkan anak kebiasaan berbagi.

Menurut psikolog Rustika Thamrin, penelitian membuktikan spektrum emosi ibu memancar ke janin. Energi positif dari ibu bisa tersalurkan ke dalam kandungan. “Tiga bulan pertama dalam kehamilan, bayi dalam kandungan boleh diajak bicara. Energi positif dari ibu bisa tersalurkan pada bayi,” katanya, saat talkshow tentang membangun kebiasaan berbagi, bagian dari kegiatan Sahabat Tango Spread Miracle, di KidZania, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Memberikan nilai positif, dalam rangka membangun kebiasaan berbagi harus dimulai ibu hamil dari dirinya sendiri. Caranya, ibu melakukan hal positif atau kebiasaan baik yang ingin ditularkan. “Membangun kebiasaan berbagi pada anak bisa dimulai sejak kehamilan,” lanjutnya.

Jadi, daripada mengeluhkan kondisi yang berubah selama hamil, lebih baik melatih kebiasaan positif. Mulai saja dengan memotivasi diri saat semangat melemah dengan mengajak anak dalam kandunan beraktivitas bersama Anda. Atau ubah kebiasaan menuntut perhatian dengan memberikan lebih banyak bantuan kepada orang lain, sekecil apapun itu

 

KOMPAS.com – Olahraga adalah hal yang baik untuk kesehatan seseorang. Namun, belakangan ini banyak yang khawatir berolahraga bisa membahayakan kandungan. Tetapi menurut Erika Lenkert, dalam bukunya, The Real Deal: Guide to Pregnancy, berolahraga bisa banyak manfaatnya bagi tubuh.

Studi dari The American College of Obstetricians and Gynecologists, berolahraga saat hamil bisa meningkatkan energi, melegakan konstipasi, kram kaki, kembung dan bengkak, meningkatkan semangat, relaksasi, menjaga postur tubuh dan kualitas tidur, membangun massa otot, mengkontrol diabetes, melawan sakit punggung, menambah stamina saat persalinan, serta membantu tubuh kembali ke bentuk semula lebih cepat. Baca lebih lanjut

 

KOMPAS.com – Ada saat-saat tertentu ketika orangtua merasa tak sabaran menghadapi anaknya. Marah dan frustasi kadang memicu ucapan yang tak diperhitungkan dengan seksama. Awalnya kita pikir kata-kata itu akan menghilang begitu saja dan tak berpengaruh pada anak, toh, orangtua dari kita sendiri mengucap kata-kata itu ke kita. Jangan salah, ada kata-kata yang seringkali memiliki dampak besar pada emosi dan psikologis anak. Ada beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari saat berbicara dengan anak. Apa saja?

“Kamu seharusnya malu sama diri sendiri”
Kata “malu” adalah emosi yang destruktif dan seringkali memicu rasa bersalah yang sangat mendalam. Meski setiap anak bertingkah nakal, amat penting bagi mereka untuk mengerti mengapa tingkah mereka itu salah dan ia harus paham bahwa adalah hal yang wajar bagi setiap manusia untuk melakukan kesalahan, dan yang terpenting adalah kita semua belajar dari kesalahan itu. Baca lebih lanjut

 

KOMPAS.com – Bayi memang belum bisa mengerti apa yang Anda katakan. Ia mungkin belum paham apa arti dari kata-kata yang keluar dari mulut Anda. Tetapi, ketika manusia bergantung pada sosok tertentu, ia akan bisa menangkap emosi dan mood orang itu. Tak heran, ketika orangtua stres, anak pun akan merasakannya.

Saat orang stres, anak pun akan merasakan stres itu juga, begitu kata Andrew Garner MD, asisten profesor di Case Western Reserve University School of Medicine seperti dikutip dari WebMD. Riset membuktikan hal bahwa bayi dan anak-anak punya kepekaaan yang tinggi.

Memang, stres tidak bisa diabaikan begitu saja. Begitu banyak tekanan yang dihadapi para orangtua tanpa sadar memang bisa membuat perilaku yang tak mengenakkan atau energi negatif yang terpancar dan diterima oleh anak. Saat orangtua terlalu banyak memikirkan masalah dan tekanan yang ia alami dan itu adalah hal di luar si anak, maka si anak akan merasa tidak diperhatikan, yang berujung membuatnya merasa ditinggalkan dan takut. Anak-anak juga belajar dari meniru. Cara orangtua menghadapi stres akan ditiru si anak. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: